Pendidikan Anak Secara Islam (2)

Usia 6 – 10 Tahun

Usia 6 tahun; Secara sosial dan emosional anak usia 6 tahun memiliki sejumlah karakteristik yang khas yang berbeda dibanding saat usia 5 tahun. Misalnya, adanya kesadaran akan fakta bahwa orang lain mungkin berbeda pandangan dengannya. Namun pada saat yang sama ia dapat juga bersikap kaku, banyak menuntut dan tidak mampu beradaptasi. Dengan sikap ini, maka suatu kritik atau hukuman dapat melukai hatinya. Independensi juga semakin kuat, walaupun masih tetap merasa kuatir.

Usia 6 tahun juga ditandai dengan selesainya jenjang pendidikani TK (Taman Kanan-kanan) dan mulainya babak baru memasuki bangku Sekolah Dasar (SD). Suasana kelas, teman, guru dan aktifitas pun berbeda dibanding sebelumnya. Oleh karena itu, orang tua pun harus beradaptasi dengan perubahan ini dalam mendidik anak saat di rumah. Mengingat putra Anda saat ini memiliki rasa kengintahuan yang besar, aktif, dan sedang menyerap pertemanan dan suasana baru di sekolah.

Berikut beberapa langkah minimal yang perlu dilakukan orang tua.

Berikan sistem penanaman disiplin yang konsisten di rumah untuk membantu putra Anda beradaptasi dengan disiplin di sekolah.

Berikan ruang gerak yang luas untuk aktifitas fisik guna membantunya mengem-bangkan kemampuan.

Jangan pelit dengan pujian. Bersabarlah dengan perilaku egoisnya; itu akan berlalu seiring waktu. Jangan lupa untuk selalu mengingatkan dia akan buruknya sikap itu.

Datanglah pada acara-acara di sekolahnya. Termasuk kompetisi olahraga yang dia ikuti.

Membangun Karakter Spiritual

Seperti ditulis dalam artikel sebelumnya, karakter religi atau pendidikan keislaman harus mulai ditanamkan sejak dalam kandungan, beberapa saat setelah lahir, dan tahun-tahun berikutnya.

Pada saat balita, penekanan pendidikan keagamaan hendaknya diprioritaskan pada keharusan menyembah Allah dan tanda-tanda adanya Allah. Keesaan dan kekuasaan-Nya. Referensi buku, cd, dvd Islami untuk anak-anak dapat dibuat rujukan untuk membantu orang tua menanamkan pola pikir (mindset) religius anak sejak dini.

Jika kebiasaan salat lima waktu yang pada saat balita dilakukan tidak secara konsisten dan cuma satu atau dua waktu saja, maka pada usia ini orang tua hendaknya memberi pemahaman bahwa si anak harus mulai belajar untuk melakukan shalat lima waktu dalam sehari. Dan wajibnya melakukan salat tersebut. Hal ini agar anak siap secara mental saat dia diwajibkan melakukan salat lima waktu pada saat usianya mencapai 7 tahun. Rasulullah bersabda: “Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat saat usia mereka tujuh tahun dan pukullah mereka ketika sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka tempat tidurnya” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Tentu saja, pola pikir dan pola sikap religius itu bukan hanya salat. Perlunya taat pada orang tua hendaknya juga menjadi etika prioritas yang selalu dicamkan ke hati anak dan didengung-dengungkan di telinga anak dalam berbagai kesempatan sebagai salah satu bagian penting dari perilaku religius.

Allah berfirman: “Dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS Al Isra’ 17:23).

Usia 7 tahun; Imam Al Ghazali dalam bukunya Ayyuhal Awlad mengatakan anak adalah amanah Allah bagi orang tuanya. Seorang anak hendaknya ditanamkan pendidikan Islam sejak masa-masa awal kehidupannya dan diajarkan makna agama yang lebih luas secara gradual. Bagaimana mendidik anak usia 7 tahun?

Dari segi emosi sosial, usia tujuh tahun bagi seorang anak adalah ibarat sebuah permulaan menuju karakter yang baik seperti ramah, simpatik, hangat dan mudah bekerja sama. Ia juga memiliki sikap empati atau tidak egois pada yang lain. Itu disebabkan karena ia memiliki kontrol diri dan stabilitas yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

Sikap yang buruk pada tahun lalu seperti berbohong, menipu dan mencuri berkurang secara drastis. Namun, kalau perilaku buruk ini tetap terjadi, orang tua harus mengambil langkah tegas agar anak mengerti bahwa ia salah. Baik salah menurut etika sosial, maupun dari sudut pandang agama Islam. Konsekuensi dari berbohong, menipu dan mencuri dapat berupa nasihat, dihapusnya fasilitas (untuk sementara), dan mengembalikan barang yang dicuri. Dengan demikian, hukuman harus berbeda sesuai level kesalahan. Dan pastikan orang tua konsisten dengan itu.

Jangan lupa, hukuman disiplin hendaknya disertai dengan diskusi tentang bagaimana supaya anak dapat berperilaku lebih baik di lain waktu. Ini penting, karena pada usia ini anak sudah dapat mencerna alasan dan logika yang benar asal disampaikan dengan cara yang sederhana.

Dalam segi kepercayaan diri (self-esteem), anak usia 7 tahun cukup labil. Oleh karena itu, sering-seringlah memberi motivasi dan masukan positif. Termasuk membantunya menghentikan kecenderungan menyalahkan diri sendiri (self-critical) dengan penekanan bahwa yang terpenting adalah apa yang sudah dipelajari, bukan hasil akhir. Sekali-kali, anak hendaknya mendapat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.

Dengan kemampuannya untuk mencerna suatu instruksi secara rasional, maka orang tua dianjurkan untuk memulai aktifitas yang dapat menstimulasi nalar berfikirnya. Misalnya, mengajak berdiskusi tentang nilai benar dan salah, baik dan buruk. Juga perbedaan antara kebenaran menurut etika sosial dan secara agama. Misalnya, nilai benar dan salah dalam etika sosial adalah berdasarkan kesepakatan manusia. Sedang nilai benar dan salah secara Islam adalah berdasar wahyu Al Quran dan Sabda atau Hadits Nabi.

Menstimulasi daya nalarnya juga dapat dilakukan dengan cara memberi pertanyaan yang mengundang anak untuk berfikir, memberi teka-teki dan bermain game yang membutuhkan pikiran. Kesabaran juga diperlukan orang tua atas sikap anak yang agak labil dan suka emosi.

Kewajiban Agama

Rukun Islam yang lima sudah perlu diperkenalkan secara lebih rinci dibanding sebelumnya. Terutama terkait kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Walaupun secara syari’ah, anak usia 7 tahun belum wajib melaksanakan salat, akan tetapi, pembiasaan sudah harus dimulai dari usia ini. sebagaimana tersurat dari sabda Nabi: “Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat saat usia mereka tujuh tahun.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Taat dan hormat pada kedua orang tua (QS Luqman 31:14) merupakan salah satu nilai agama yang hendaknya menjadi etika prioritas kedua—setelah taat pada Allah– untuk ditanamkan pada anak sejak dini. Karena ia memainkan peran penting atas sukses tidaknya orang tua mendidik anak. Nilai sebaik apapun yang diajarkan akan percuma jika anak tidak mentaati orang yang mendidiknya.

Pada waktu yang sama orang tua hendaknya menjadi contoh hidup atau tauladan (uswah hasanah) dari segala ucapan, nasihat dan segala hal baik yang diajarkan pada anaknya (QS Al Ahzab 33:21). Karena tidak ada ajaran perilaku yang paling efektif dan efisien kecuali apabila apa yang dikatakan pendidik sama dengan apa yang dilakukannya. Orang tua jangan pernah mengajarkan suatu kebaikan, kalau tidak dapat memberi contoh dengan tindakan nyata.

Usia 8 tahun; Secara sosial dan emosional, anak usia 8 tahun memiliki perilaku khas yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Ada yang negatif seperti tidak sabaran, mood mudah berubah, sangat sensitif dan dramatis, mudah terpengaruh tekanan teman, kasar, egois, terobsesi uang, dan lain-lain. Ada pula yang positif seperti ringan tangan, ceria, menyenangkan, mudah berteman, dan lain-lain. Pada usia ini, anak juga sangat membutuhkan kasih sayang dan pengertian, terutama dari ibu. Ia juga memiliki kebutuhan kuat untuk memiliki.

Untuk itu, diperlukan sikap hati-hati dan bijak dalam mendidik dan mengasuhnya. Berikut beberapa tips sebagai pegangan:

Pertama, berusahalah akrab secara proporsional dengan anak Anda. Ajaklah bicara tentang teman-temannya. Dengarkan dan diskusikan kekuatirannya seputar teman dan performanya di sekolah.

Kedua, ajarkan nilai akhlak (syariah Islam) tentang apa yang wajib dan dilarang (haram) menurut Islam. Termasuk wajibnya melaksanakan shalat lima waktu (QS Thaha 20:132), haramnya berzina dan mencuri (QS Al Mumtahanah 60:12), haramnya judi dan minuman keras (QS Al Maidah 5: 91) dan lain-lain.

Ketiga, kembangkan wawasan etika sosial tentang hal yang baik dan buruk. Seperti perlunya bersikap jujur, kerja keras, sopan, hormat pada orang tua, dan lain-lain.

Keempat, keinginan anak untuk memiliki uang banyak dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan dia tentang perlunya menabung untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kelima, anak usia ini membutuhkan privasi dan kerahasiaan. Karena itu, beri mereka lemari khusus atau kotak yang terkunci.

Disiplin

Orang tua dari anak usia 8 tahun harus memiliki strategi pendisiplinan anak yang banyak. Karena mendisiplinkan anak dengan cara otoriter akan berdampak negatif berupa perilaku agresif dan permusuhan.

Orang tua harus belajar dan melatih diri bagaimana memberlakukan disiplin yang berwibawa dan otoritatif yang memberikan ekspektasi dan konsekuensi tegas dan konsisten serta mengajarkan mengapa perilaku anak berakibat pada konsekuensi baik atau buruk.

Anak usia 8 tahun mulai menyadari motivasi dan perilaku orang lain dan membuat penilaian tentang hubungan dirinya dengan mereka. Kesadaran ini adalah permulaan dari pengembangan nilai moral dan etika. Dia mulai memahami bagaimana dan mengapa perilakunya dapat berdampak pada orang lain. Di sinilah perlunya lingkungan yang baik bagi anak. Dan adalah tugas orang tua untuk memastikan bahwa anaknya berada di lingkungan yang ideal. Baik selama di sekolah, di luar rumah, dan selama di rumah.

Usia 9 tahun; Usia 9 tahun adalah usia di mana secara intelektual anak dapat menghafal dan membaca pelajaran secara lebih mudah dibanding berfikir atau memahami. Oleh karena itu segala sesuatu yang bersifat hafalan, sebaiknya dimulai dari usia ini. Seperti, menghafal doa-doa, menghafal surat-surat pendek dari Al Quran. Termasuk juga menghafal kosa-kata bahasa.

Di India, kalangan huffadz (jamak dari hafidz atau orang yang hafal seluruh teks Al Quran) memulai menghafal Al Quran umumnya pada usia ini. Imam Syafi’i, ulama ahli fiqh pendiri madzhab Syafi’i, hafal Al Quran pada usia 10 tahun.

Anak usia 9 tahun juga sedang mulai membangun mindset nafsu muthma’innah (QS Al Fajr 89:27-30) atau pola pikir hati nurani tentang nilai yang benar dan salah walaupun belum dilakukan secara konsisten. Untuk itu dibutuhkan bantuan orang dewasa, orang tua terutama, untuk mempertegas wawasan nilai-nilai. Baik nilai-nilai Islami maupun etika sosial universal. Ia menyadari ketika ia berbuat salah, dan saat gagal melakukan hal yang baik. Ia akan mengaku pada orangtuanya atas kesalahan yang dilakukannya, karena nuraninya akan terganggu sampai ia membuat pengakuan.

Kejujuran, keadilan dan kebenaran adalah nilai-nilai yang sangat penting bagi anak usia 9 tahun. Ia mengharapkan norma-norma itu dimiliki dirinya dan orang lain. Di sinilah fungsi orang tua untuk mengimbangi sikap anak dalam bersikap jujur, adil dan benar. Orang tua juga harus berusaha mencarikan pasangan bergaul dan bersosial yang baik bagi anak.

Keinginan khusus untuk membangun pola pikir hati nurani ini adalah akibat dari perubahan penting dalam kesadaran anak yang menandai akhir dari periode dini masa anak-anak (early childhood) menuju fase perkembangan baru. Rudolf Steiner dalam bukunya Soul Economy and Waldorf Education (New York:1986) menulis bahwa, “Pada usia sembilan tahun anak betul-betul mengalami transformasi diri, yang terlihat dari adanya perubahan signifikan pada jiwa dan fisiknya.”

Disiplin

Walaupun secara umum ia mudah diatur dan berkesan penurut, namun sebagai anak yang masih belum stabil dan perlu bimibingan, ia terkadang juga berbuat salah. Memberikan sangsi atau disiplin adalah suatu keharusan.

Untungnya, anak usia 9 tahun cukup mudah menerima hukuman karena ia ingin jadi anak baik asalkan sangsi itu dianggap cukup adil dan sesuai dengan peraturan yang sudah dicanangkan sebelumnya dan konsisten dilakukan oleh orang tua.

Walaupun ia tidak selalu konsisten dalam melakukan tugas-tugas rutin, namun ia akan menurut ketika diminta melakukan tugasnya dan berhenti dari aktifitas lain yang sedang dikerjakannya.

Hukuman dapat berupa isolasi (dikurung dalam kamar selama sekian menit), dihapus hak istimewa (seperti di larang nonton TV selama sehari) , peringatan, dan lain-lain. Ia akan menerima hukuman dengan lapang dada asal tidak dipermalukan, dibentak atau dikritik terlalu tajam.

Usia 10 tahun; Usia 10 tahun merupakan usia yang stabil, baik secara psikologis, intelektual dan sosial. Mereka periang, mudah bergaul dan tenang. Anak usia ini tahu bagaimana cara menikmati hal sederhana semaksimal mungkin.

Namun berbeda dengan saat usia 9 tahun yang ingin menjadi lebih baik berdasar hati nurani, anak usia 10 tahun melihat agama dan moralitas sebagai hal yang harus berdasar fakta. Ia tidak terlalu peduli dengan nuraninya atau ajaran moral agama yang diajarkan guru dan orang tua kalau tidak diimbangi dengan fakta.

Lalu bagaimana cara mengajarkan akhlak secara faktual? Kata-kata nasihat tentu harus terus disampaikan. Namun, suri tauladan yang baik dari orang tua, guru dan lingkungan hendaknya menjadi prioritas. Karena anak usia ini lebih melihat apa yang dilakukan, daripada apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya.

Dalam penanaman doktrin agama, khususnya keesaan dan keberadaan Allah sebagai Maha Pencipta, orang tua dapat merujuk pada Al Quran Surah Ali Imran 3:190 sebagai rujukan cara pembelajaran. Yakni, dengan menjadikan keberadaan alam semesta, termasuk umat manusia itu sendiri, adanya perubahan siang dan malam, sebagai bukti keberadaan dan ke-esaan-Nya. Pada waktu yang sama, shalat lima waktu sudah harus menjadi rutinitas keseharian seperti perintah Nabi Muhammad bahwa anak usia 10 tahun harus dikenai sanksi apabila tidak melakukan shalat lima waktu.

Nilai-nilai moral universal seperti kepedulian sosial dan kedermawanan, kejujuran dan anti-korupsi, kesederhanaan dan kerja keras, dan lain-lain dapat ditanamkan dengan memberikan contoh nyata dari kejadian dan fakta kehidupan sehari-hari.

Anak usia 10 tahun juga suka menulis, membaca dan memakai buku referensi. Beri dia kesempatan untuk melakukan hal-hal positif ini, dengan tidak terlalu membebani. Bagi orang tua, kesukaan menulis dan membaca dapat dibuat kesempatan untuk memberikan bacaan yang diinginkan sesuai dengan harapan orang tua. Termasuk bacaan buku-buku Islam sebagai upaya penanaman nilai-nilai spiritual sejak dini.

Disiplin

Apabila anak usia 10 tahun melakukan pelanggaran, maka penanaman disiplin terbaik adalah dialog dan perencanaan. Ajak dia berdiskusi, karena ia butuh diajari cara mengekspresikan perasaan dan pikirannya untuk mengatasi konflik internal dan eksternal. Karena apabila orang tua bersikap tertutup sehingga anak berfikir bahwa adalah tidak baik mendiskusikan hal yang mengganggunya, maka ia akan mengatasi persoalannya dengan fantasi dan pikirannya sendiri. Dan ini berbahaya. Karena ia belum memiliki kedewasaan internal yang terstruktur untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Ia butuh mencurahkan problemanya pada orang tua dan guru untuk mengatasi masalahnya secara riil.

Perencanaan perlu dilakukan karena anak usia 10 tahun sudah membentuk kemampuan berencana. Dan pendekatan disiplin yang paling efektif hendaknya fokus pada rencana dan ekspektasi yang tegas, jelas dan konkret pada anak untuk berperilaku baik. Dalam hal ini, orang tua harus tetap hangat tapi juga tegas dan konsisten.

dicopy dari : http://afatih.wordpress.com/

Iklan

Tentang lonlide

Just Simple Me ...
Pos ini dipublikasikan di Djan - Mantap Banget'z. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pendidikan Anak Secara Islam (2)

  1. Zaki berkata:

    Pak dhe kok poto ku ono neng kene ? Men + ngetop yo …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s